<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
      xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
      xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    >
  <channel>
    <title>Catatan Facebook Rizky Garut</title>
    <link>https://www.facebook.com/notes.php?id=1377712085</link>
    <description>Catatan Facebook Rizky Garut</description>
    <language>en-us</language>
    <category domain="Facebook">NotesFeed</category>
    <generator>Facebook Syndication</generator><docs>http://www.rssboard.org/rss-specification</docs>
    <lastBuildDate>Sat, 23 Nov 2013 14:04:41 -0300</lastBuildDate>
    <managingEditor>https://www.facebook.com/garutrizky</managingEditor>
    <webMaster>webmaster@facebook.com</webMaster>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/membuat-bbm-di-android/10201033100054505</guid>
      <title><![CDATA[MEMBUAT BBM DI ANDROID]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/membuat-bbm-di-android/10201033100054505</link>
      <description><![CDATA[<div><p><em><strong>Assalaamu Alaikum Wr. Wb.</strong></em></p><p> </p><p>Dengan layanan android, kita bisa memiliki ID Blackberry dengan PIN tersendiri juga.</p><p> </p><p>Caranya:</p><p>1. Register di BBM dengan email kita yang validate.</p><p>2. Download Aplikasinya serta instal di HP kita.</p><p>3. Masuk dengan ID Blackberry yang telah diregister tadi.</p><p>Selamat mencoba!.</p><p> </p><p>Boleh cek Bbm Samsung kami dengan PIN:</p><p>a. 75914E91</p><p>b. 766CD695</p><p>c. 758D7604</p></div>]]></description>
      <pubDate>Sat, 23 Nov 2013 06:01:08 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/hp-3g-android-dibuat-lan-wifi/10201033126775173</guid>
      <title><![CDATA[HP 3G ANDROID DIBUAT LAN WIFI]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/hp-3g-android-dibuat-lan-wifi/10201033126775173</link>
      <description><![CDATA[<div><p><em><strong>Assalaamu Alaikum Wr. Wb. </strong></em></p><p> </p><p>Hanya pengalaman dan berbagi tentang network (jaringan) paket data 3G  HP yang ada Androitnya, bisa jadi semacam LAN Wifi dibagi ke HP lainnya  atau komputer, Labtop serta lainnya.</p><p> </p><p><strong>Caranya:</strong></p><p>1. Buka Playstore di HP android yang ada networknya.</p><p>2. Masukan di search (pencarian) sebelah atas dengan tulisan Key Wifi, atau langsung <strong>FoxFi</strong>.</p><p>3. Temukan aplikasi <strong>FoxFi</strong> (Wifi Tether w/o Root), download dan instal di HP kita.</p><p>4. Dengan sendirinya muncul dari HP kita jaringan LAN Wifi.</p><p>5. Lalu buka, lihat setting, rubah nama jaringannya, serta beri password.</p><p>6. Sambungkan HP lainnya, Laptop, Komputer atau lainnya ke jaringan  tersebut yang sudah kita setting baik nama atau passwordnya.</p><p> </p><p>Sekalipun kita banyak HP, cukup dengan satu yang memiliki paket data  3G nya. dan untuk kecepatan itulah 3G. paling tidak, ada hemat kita.</p><p> </p><p>Silahkan di coba dulu, semoga bermanfaat.</p><p> </p><p><em><strong>Wassalaamu Alaikum Wr. Wb. </strong></em></p><br /></div>]]></description>
      <pubDate>Sat, 23 Nov 2013 06:21:07 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/cara-menggunakan-banyak-account-facebooks-dalam-satu-perangkat-hand-phone-hp/10200097443223669</guid>
      <title><![CDATA[Cara Menggunakan Banyak Account Facebooks Dalam Satu Perangkat Hand Phone (HP)]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/cara-menggunakan-banyak-account-facebooks-dalam-satu-perangkat-hand-phone-hp/10200097443223669</link>
      <description><![CDATA[<div><p><em><strong>Assalaamu Alaikum Wr. Wb.</strong></em></p><p> </p><p>Apakah kita memiliki banyak account Facebook?, tetapi ingin serentak bersama digunakan dalam satu perangkat Hand Phone (HP) kita.</p><p> </p><p><strong>Caranya mudah;</strong></p><p>1). Buka browser Web untuk internet HP, buka m.facebook.com, lalu masukan account ke 1, lalu alihkan ke Go to, pilih New web page, dan </p><p>2). Kita buka m.getjar.com/Opera Mini lihat apps facebook, klik dan download instal di HP, masukan account Facebook yang ke 2. Lanjut ke no </p><p>3). Masih di link getjar/Opera Apps diatas, cari apps browser internet, seperti Mozila, Aple, Oper, Chrome dan lainnya. Download instal seperti nomor 2, setelahnya buka masing-masingnya dan masukin Account Facebook yang berbeda.</p><p> </p><p>Selamat mencoba!. Dengan Hand Phone kita bisa menggunakan 6 Account atau lebih yang berbeda.</p><p> </p><p><em><strong>Wassalaamu Alaikum Wr. Wb.</strong></em></p></div>]]></description>
      <pubDate>Fri, 14 Jun 2013 04:10:02 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/sesungguhnya-amal-tergantung-niat/3581909431219</guid>
      <title><![CDATA[SESUNGGUHNYA AMAL TERGANTUNG NIAT]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/sesungguhnya-amal-tergantung-niat/3581909431219</link>
      <description><![CDATA[<div><p><em><strong>Assalamualaikum Wr. Wb.</strong></em></p><p> </p><p><strong>SESUNGGUHNYA AMAL TERGANTUNG NIAT</strong></p><p><strong>Semua Amal Tergantung Niatnya</strong></p><p> </p><p> </p><blockquote><em>“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.”</em> <strong>(HR. Bukhari Muslim)</strong></blockquote><p>&gt;&gt;&gt;Syarah</p><p> </p><p>Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Telah ada dalam hadits ini sepertiga ilmu, ucapan ini di riwayatkan oleh Bukhari dan lainnya, sebabnya dikatakan demikian karena perbuatan hamba terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya. Dan niat adalah salah satu dari tiga bagian ini. Juga telah di riwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata: ” Hadits ini masuk dalam tujuh puluh bab masalah fiqih”. sekelompok ulama ada yang berkata: ” Hadits ini sepertiga ilmu”.</p><p> </p><p>Para ulama juga menganjurkan agar memulai karangan-karangan dengan hadits ini, diantara ulama yang memulai kitabnya dengan hadits ini adalah Imam Abu Abdillah Al Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Semua pengarang buku hendaknya memulai kitabnya dengan hadits ini, untuk mengingatkan thalibul ilmi agar membenarkan niatnya.</p><p> </p><p>Hadits ini jika dilihat dari akhir sanadnya adalah masyhur, tapi jika dilihat dari awal sanadnya adalah hadits gharib, karena tidak ada yang meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kecuali Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali Alqomah bin Abi Waqash, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Alqomah kecuali Muhammad bin Ibrahim Attaimi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim kecuali Yahya bin Sa’d Al Anshori. Kemudian setelah itu menjadi masyhur di riwayatkan oleh lebih dari dua ratus orang dan sebagian besar mereka adalah imam.</p><p> </p><p>Lafazh <em>innamaa </em>untuk hashr (pembatasan): menetapkan yang disebutkan dalam konteks hadits dan menafikan yang selainnya, lafazh ini sebagai pembatas yang mutlak dan kadang sebagai pembatas yang khusus, hal ini di pahami dengan adanya qorinah, seperti firman Allah:<em>innamaa anta mundziru</em></p><blockquote>“<em>Engkau hanyalah seorang pemberi peringatan” </em><strong>(An Nazi’at:45).</strong></blockquote><p>Zhahir ayat ini menunjukkan pembatasan tugas Rasulullah hanya sebagai pemberi peringatan, padahal Rasulullah sifatnya tidaklah terbatas itu saja, bahkan dia mempunyai sifat yang banyak dan bagus, seperti pembawa kabar gembira dan lainnya. Demikianlah pula firman Allah Ta’ala: <em>innamalhayaatuddunyaa lahwun wa la’ibun</em></p><blockquote>“<em>kehidupan dunia hanyalah permainan dan sia-sia.”</em></blockquote><p>Zhahir ayat – wallahu a’lam- pembatasan jika dilihat dari pengaruhnya, adapun jika dilihat dari hakikat dunia itu sendiri, kadang dunia menjadi sebab satu kebaikan, ayat ini hanya menunjukkan pengaruh dunia terhadap mayoritas manusia.</p><p> </p><p>Jika ada lafazh <em>innamaa </em>perhatikanlah, apabila konteks dan maksud pembicaraan menunjukkan pembatasan yang khusus katakanlah demikian, jika tidak maknakanlah dengan pembatasan yang mutlak. Diantaranya sabda Rasulullah: “amalan itu tergantung niatnya” yang di maksud amalan dalam hadits ini adalah amalan syari’ah.</p><p> </p><p>Maknanya: amalan tidak teranggap jika tanpa niat, seperti wudhu, mandi, tayammum demikian pula sholat, zakat, puasa, haji, i’tikaf, dan seluruh ibadah, adapun menghilangkan najis tidak butuh kepada niat karena itu termasuk <em>tark</em>, dan bab <em>tark</em> tidak butuh pada niat. Ada juga sekelompok ulama berpendapat sahnya wudhu dan mandi tanpa niat.</p><p> </p><p>Dalam sabda Rasulullah: “<em>Amalan itu tergantung niat</em>” ada kata yang mahdzuf (di hilangkan) para ulama ikhtilaf dalam menentukan lafazh yang mahdzuf, ulama yang mensyaratkan niat dalam ibadah menyatakan: “<em>Sahnya amalan itu dengan niat</em>“, ulama yang tidak mensyaratkan niat menyatakan:</p><blockquote>“<em>sesungguhnya sempurna tidaknya amalan itu tergantung niat</em>“.</blockquote><p>Sabda beliau: “Sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan” Al khattabi berkata: “kalimat ini memberikan makna khusus berbeda dengan kalimat yang pertama yaitu menentukan amalan dengan niat. Syaikh Muhyidin menyebutkan faedah yang ia sebutkan: “Bahwasanya menentukan amalan dengan niat adalah syarat, kalau seseorang mempunyai kewajiban sholat qodha, dia tidak cukup meniatkan sholat yang terluput, tapi disyaratkan untuk menentukan apakah sholat tersebut sholat zhuhur atau ashar atau selain keduanya. Kalau tidak ada kalimat kedua (yakni: Sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan) maka kalimat pertama hanya menunjukkan bahwa sahnya amalan itu dengan niat tanpa mewajibkan untuk menentukan niat, atau akan mengesankan demikian, wallahu a’lam.</p><p> </p><p>Sabdanya:</p><blockquote>“<em>Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya</em>“,</blockquote><p>yang telah disepakati oleh ahli bahasa arab: syarat dan jaza (syarat dan jawab) serta mubtada dan khabar haruslah beda, akan tetapi dalam hadits ini antara syarat dan jaza tidak berbeda. Jawabnya adalah:“Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya” dalam niat dan tujuannya “<em>Maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya</em>” dalam hukum dan syari’at.</p><p> </p><p>Hadits ini teriwayatkan karena ada sebab, para ulama menukilkan bahwa ada seorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah untuk menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qois, dia tidak menginginkan keutamaan hijrah, hingga iapun di juluki “muhajir ummu Qois”-wallahu a’lam-**</p><p> </p><p>———————————————————-* Ibnu Rajab menyatakan dalam kitabnya ‘Jami’ul Ulum wal Hikam’: “Telah masyhur bahwa kisah muhajir ummu qois adalah sebab diucapkannya hadits:</p><blockquote><em>“Barang siapa hijrahnya untuk dunia yang ia dapatkan atau wanita yang ingin ia nikahi …”</em></blockquote><p>banyak orang mutaakhirin yang menyebutkan hal ini dalam kitab-kitab mereka, tapi kami tidak dapatkan keterangan ini dalam sanad yang shahih,” wallahu a’lam.</p><p> </p><p>Syaikh Salim berkata: “Inilah yang benar, Al Hafizh telah menegaskan dalam kitabnya “Fathul Bari I/10″: “(Walaupun hadits muhajir ummu qois shahih) tapi tidak ada keterangn hadits “innamal a’malu binniyat” disebabkan oleh kejadian (hadits) tersebut, aku tidak temukan sedikitpun dalam banyak sanad hadits ini yang menegaskan hal tersebut.” (Dinukil dari kitab ‘Iqodhul Himmam hal 37-pent).</p><p> </p><p>** Faedah (fiqih) hadits ini diantaranya:</p><ol><li>Harusnya berniat dalam seluruh amalan.</li><li>Niat tempatnya di hati bukan di lisan menurut kesepakatan muslimin, dalam seluruh ibadah bersuci, sholat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, jihad dan lainnya, melafazhkan niat adalah bid’ah, telah keliru orang yang membolehkan mengucapkan niat ketika haji dan lainnya, karena mereka tidak bisa membedakan antara niat dan talbiyah.</li><li>Amalan shalih terwujud dengan niat yang shalih, tapi niat yang baik tidak bisa menjadikan perkara mungkar menjadi baik atau perkara bid’ah menjadi sunnah, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mencapainya.</li><li>Ikhlas untuk Allah adalah syarat di terimanya amal, karena Allah tidak menerima amalan kecuali yang paling murni dan benar, yang paling murni adalah yang di tujukan hanya untuk Allah dan yang paling benar dan adalah yang sesuai dengan sunnah yang shahih. (Di sarikan dari kitab “Bahjatun nazhirin syarah Riyadhus Shalihin: 1.31-32).</li></ol><p> </p><p> </p><p><strong>SESUNGGUHNYA AMAL TERGANTUNG NIAT</strong></p><p> </p><p><strong>عَنْ</strong><strong> أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ :(( إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ)). رواه البخاري مسلم </strong></p><p> </p><ul><li><strong>Terjemah hadits:</strong></li></ul><p>Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob rodiallohuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rosululloh alaihisolatu wassalam bersabda :</p><blockquote><em>&quot;Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya  karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. “ </em><strong>(H.R. Bukhori no:01 dan Muslim no:1907)</strong></blockquote><ul><li><strong>Biografi perawi “Umar bin Alkhotob”:</strong></li></ul><p>Beliau adalah Umar bin Khotob bin Nufail bin Abdul Uzza, kuniyah beliau adalah Abu Hafs dan Laqob (julukan) beliau adalah Alfaruq, Ibnu sa’d meriwayatkan dengan sanad mursal bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:”Sesungguhnya Alloh menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan hatinya dan dia adalah <strong>Alfaruq</strong> (yang membedakan).” <strong>(Athobaqot 3/270).</strong></p><p> </p><p>Beliau masuk islam ketika berumur dua puluh tujuh, beliau mengikuti perang badr, perang uhud dan seluruh peperangan bersama Nabi sholallohu alaihi wassalam dan dia adalah kholifah kedua setelah Abu bakr assidiq dan dia juga kholifah pertama yang dipanggil dengan <strong>“Amirul mu’minien”</strong>.</p><p> </p><p>Umar bin Alkhotob rodhiallohu anhu dibunuh sebagai seorang syahid ketika sholat shubuh oleh Abu lu’lu almajusi pada tahun 23 Hijriyah, Beliau menjabat kholifah kedua selama 10 tahun enam bulan sepuluh hari.</p><p> </p><p>Beliau mempunyai banyak keutamaan-keutamaan dan diantaranya:<strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ: ((بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فيِ اْلجَنَّةِ فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا اْلقَصْرُ؟ قَالُوْا: لِعُمَرَ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ، فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا)). فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ: أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُوْلُ اللهِ.</strong></p><p> </p><p>Dari Abu Hurairoh radhiallohu anhu berkata: Pada saat kami berada di sisi rosululloh alaihislatu wassalam beliau bersabda:</p><blockquote><em>” Ketika Aku sedang tidur aku bermimpi berada di dalam surga, tiba-tiba ada seorang perempuan sedang berwudhu di sebelah sebuah istana, maka saya berkata “Milik siapakah istana ini?”Mereka menjawab “Milik Umar” Lalu aku tuturkan kecemburuannya lalu aku berpaling.” Maka Umar-pun menangis dan berkata:” Apakah aku cemburu pada anda wahai Rosululloh?.” </em><strong>(H.R. Bukhori no:3680 dan Muslim no:2395)</strong></blockquote><p><strong>عَنْ سَعْدِ ابْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ:  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيْكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ)).</strong></p><p> </p><p>Dari Sa’d bin Abi waqos rodhiallohu anhu berkata, Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:</p><blockquote><em>”Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada setan yang berpapasan denganmu (Umar) di suatu jalan melainkan setan tersebut pasti akan menyimpang untuk menghindari jalanmu.”</em><strong>(H.R. Bukhori no:3683 dan Muslim no:2396)</strong></blockquote><p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَقَدْ كَانَ فِيْمَا كَانَ قَبْلَكُمْ مِنَ اْلأُمَمِ نَاسٌ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ)).</strong></p><p> </p><p>Dari Abu hurairoh radhiallohu anhu berkata: Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:</p><blockquote><em>” Di kalangan umat-umat terdahulu ada orang-orang mendapatkan ilham, jika didalam ummatku ada salah seorang yang mendapatkan ilham maka sesungguhnya dia adalah Umar.”</em> <strong>(H.R. Bukhori 3689 ( Ibnu wahb menafisirkan “Muhaddatsun” adalah orang-otang yang mendapatkan ilham (H.R. Muslim)</strong></blockquote><ul><li><strong>Asbabul wurud hadits</strong></li></ul><p>Di katakan bahwa sebab hadits ini yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : <em>“Ummu Qais”</em>bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan <em>“Muhajir Ummi Qais”</em> (Orang yang hijrah karena Ummu Qais). (Di riwayatkan oleh At-thobroni dari jalur Al-a’mas) Ibnu hajar rohimahulloh berkata dalam fathul baari:”Sanad hadits ini shohih berdasarkan syarat dua syaikh (Bukhori dan Muslim) akan tetapi bukan berarti hadits<strong><em>“al-‘amal”</em></strong> di sebabkan kejadian itu, dan saya tidak melihat ada jalur periwayatan yang jelas tentang hal itu (asbabul wurud bahwa hadits ini di sebabkan muhajir ummu qois. pent)”</p><p> </p><ul><li><strong>Penjelasan hadits:</strong></li></ul><p>Hadits tentang niat ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran islam, Imam An-nawawi <em>rohimahulloh</em> berkata:” Kaum muslimin telah berijma’ akan keagungan kedudukan hadits ini dan banyaknya faidah-faidah serta keabsahannya.” Dan Imam Abdurrahman bin mahdi berkata:” Dianjurkan bagi yang menulis suatu kitab untuk hendak memulai dalam kitabnya dengan hadits ini sebagai peringatan bagi penuntut (ilmu) agar memperbaiki niatnya.”</p><p> </p><p>Imam Ahmad <em>rohimahulloh</em> dan Imam syafi’i <em>rohimahulloh</em> berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.</p><p> </p><p>Niat secara bahasa adalah maksud, Imam albaidowi <em>rohimahulloh</em> berkata: Niat adalah Keinginan hati terhadap apa yang dirasa cocok untuk mendapatkan manfaat dan menangkal mudhorot. Adapaun secara syara’ bahwa niat adalah keinginan kuat untuk melakukan ibadah sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala.</p><p> </p><p>Di dalam syari’at niat itu mempunyai dua pembahasan:</p><ol><li>Niat ikhlas dalam beramal hanya untuk Alloh ta’ala semata, dan tentang hal ini biasanya di bahas oleh ulama-ulama tauhid dan akhlak serta ulama-ulama tazkiyah (penysucian diri)</li><li>Niat membedakan ibadah-ibadah antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya, dan biasanya hal ini di bahas oleh ulama-ulama ahli fiqih.</li></ol><p>Imam ibnu daqiq <em>rohimahulloh</em> berkata: “Kalimat &#123; <strong>إِنَّمَا</strong> &#125;berfungi sebagai (ا<strong>لحصر</strong> ) yaitu: pembatasan dan maksudnya ialah menetapkan hukum yang telah di sebutkan dan meniadakan hukum selainnya (yang tidak disebut).” Imam An-nawawi <em>rohimahulloh</em> berkata:” Jumhur ulama dari ahli bahasa dan ushul serta selain mereka berkata: lafadz &#123; <strong>إِنَّمَا</strong> &#125;berpungsi sebagai pembatasan yaitu menetapkan yang disebutkan dan meniadakan yang tidak disebutkan.” jadi maksud &#123;<strong>إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ</strong>&#125;yaitu: sah atau tidaknya amal perbuatan suatu ibadah itu tergantung pada niatnya, Imam An-nawawi <em>rohimahulloh</em> berkata:” Sesungguhnya amal perbuatan itu diberi pahala berdasarkan niat dan tidak akan diberi pahala jika (amal perbuatan tersebut tanpa niat.” Imam ibnu daqiq al-ied rohimahulloh mengatakan:” Yang di maksud dengan amal di sini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam.”</p><p> </p><p>Selanjutnya &#123;<strong>وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى</strong>&#125;” Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” Mengandung konsekwensi bahwa barangsiapa yang berniat akan sesuatu tertentu niscaya ia akan mendapatkan apa-apa yang ia niatkan dan setiap apa-apa yang ia tidak niatkan berarti ia tidak mendapatkannya. Karenaya hadits ini merupakan tolok ukur amal perbuatan hati atau batin sedangkan tolok ukur amal perbuatan dzohir adalah hadits berikut:<strong>عَنْ عَائِشَةَ</strong><strong> </strong><strong>رَضِيَ اللهُ عَنْهَا  أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (( مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)</strong><strong>).</strong></p><p> </p><p>Dari Aisyah rodhiallohu anha bahwa Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:</p><blockquote><em>((Barangsiapa berbuat dengan suatu amalan yang bukan termasuk ke dalam perkara agama kami maka ia tertolak)) </em><strong>(H.R.Bukhori dan Muslim)</strong></blockquote><p>dan hadits mulia ini sebagai tolok ukur amalan ibadah yang dzohir, oleh karenanya para ulama berkata:” Dua hadits ini telah mencakup seluruh perihal agama.”</p><p> </p><p>Kemudian Rosululloh memberikan contoh realisasi hadits ini pada hijroh seseorang:<strong>(( فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ))</strong>“Siapa yang hijrahnya  karena (ingin mendapatkan keridhaan) Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”Syaikh ibnu utaimin mendefinisikan hijroh yaitu: Berpindahnya seseorang dari negeri kafir menuju negeri islam, sedangkan Ibnu hajar al-asqolani mengartikannya dengan:”Meninggalkan apa-apa yang di larang oleh alloh ta’ala”. Kedua definisi ini tidaklah kontradiksi jika kita lihat macam-macam hijroh itu sendiri.Pembagian macam-macam hijroh:</p><ol><li>Hijroh tempat: Yaitu dengan berpindah dari tempat yang banyak terdapat maksiat dan kefasiqan menuju tempat yang tidak ada hal tersebut, dan hijroh tempat yang paling agung adalah hijroh dari negri kafir menuju negri islam.</li><li>Hijroh tingkah laku: Yaitu dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh ta’ala. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh alaihisolatu wassalah:</li></ol><p><strong>عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ( اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نهَىَ اللهُ عَنْهُ )</strong></p><p> </p><p>Dari Abdulloh bin amer rahdiallohu ‘anhu, dari Nabi alaihisolatu wassalam bersabda:</p><blockquote><em>” Seorang muslim adalah orang yang mampu menyelamatkan orang-orang muslim (yang lain) dengan lisannya dan tangannya sedangkan orang yang hijroh itu adalah orang yang bisa hijroh (pergi) dari apa-apa yang telah dilarang oleh Alloh.”</em> <strong>(H.R. Bukhori no:6484 dan Muslim no:162 dan Ahmad no:6515)</strong></blockquote><p>3.  Hiroh dari seseorang: Yaitu meninggalkan bergaul dengan seseorang, misalnya orang yang selalu berbuat kemaksiatan secara terang-terangan ataupun ahli bid’ah yang menaburkan syubhat-syubhat, menghajr ini di bolehkan jika ada faidah dan manfaat namun jika sebaliknya ataupun malah menambah permasalahan maka tidak perlu di lakukan, maka cara menghajrnya dengan tetap mengamalkan kebenaran di hadapannya. Adapun orang kafir maka mereka harus di hajr baik ada faidah ataupun tidak ada faidah kecuali mendakwahinya.</p><p> </p><p>Kejadian hijroh dalam islam bisa digolongkan sebagai berikut:</p><ol><li>Hijroh ke habasyah (ethiopia) saat orang-orang kafir menyakiti para shohabat.</li><li>Hijroh dari mekah ke madinah</li><li>Hijroh para qobilah (seperti suku) kepada Rosululloh alaihisolatu wasalam untuk belajar tentang islam dan kembali menuju kaumnya mengajarkan ilmu-ilmu tersebut.</li><li>Hijroh dari hal-hal yang telah diharomkan oleh Alloh ta’ala.</li></ol><p><strong>Pelajaran yang terdapat dalam Hadits:</strong></p><ol><li>Niat merupakan syarat diterima atau tidaknya amal ibadah dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Alloh ta’ala).</li><li>Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati dan bukan di lafadzkan karena hal itu merupakan perbuatan bid’ah.</li><li>Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Alloh ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.</li><li>Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.</li><li>Semua pebuatan yang bermanfaat dan <em>mubah</em> (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Alloh maka dia akan bernilai ibadah.</li><li>Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.</li><li>Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.</li><li>Wajib memperhatikan kebeningan hati dari dosa-dosa dan maksiat serta menghindari riya ataupun mengharapkan pujian orang terhadapnya dan juga beramal karena mengharapkan kesengangan dunia belaka.</li></ol><ul><li><strong>Mutiara ulama tentang niat ikhlas:</strong></li></ul><ol><li>Ya’qub <em>rohimahulloh</em> berkata: “ Orang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikan dirinya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya.”</li><li>As-sussy <em>rohimahulloh</em> berkata :” Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas, barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.</li><li>Ayyub <em>rohimahulloh</em> berkata :” Bagi para aktivis, mengikhlaskan niat jauh lebih sulit daripada melakukan aktivitas.”</li><li>Sebagian ulama berkata :” Ikhlas sesaat berarti keselamatan abadi tetapi ikhlas itu sulit sekali.”</li><li>Suhail <em>rohimahulloh</em> pernah ditanya tentang sesuatau yang paling berat bagi diri, ia menjawab :” Ikhlas.. sebab dengan ikhlas diri tidak mendapatkan bagian dari apa yang di kerjakan sama sekali.”</li><li>Fudhail <em>rohimahulloh</em> berkata:” Meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riya’ sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik, adapun ikhlas adalah ketika Alloh ta’ala menyelamatkanmu dari keduanya.</li><li>Umar bin khotob <em>rodhiallohu anhu</em> berkata:” Amal yang paling utama adalah melaksanakan kewajiban dari Alloh  ta’ala, bersikap waro’ tehadap yang diharomkan-Nya dan meluruskan niat untuk mendapatkan pahala di sisi Alloh tala’a.”</li><li>Sebagian salaf berkata.” Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat dan betapa banyak pula amalan besar menjadi kecil karena niat pula.</li><li>Yahya bin abu katsir <em>rohimahulloh</em> berkata:” Pelajarilah niat..! sesungguhnya niat itu lebih depat menyampaikan kepada tujuan daripada amal.”</li></ol><p> </p><p> </p><p><strong>Faidah-Faidah Hadits Setiap Amal Tergantung Niat</strong></p><p> </p><p>Segala puji bagi Allah ta’ala, Dzat yang Maha Suci dari apa yang disifatkan orang musyrik kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam, keluarga, sahabat, serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Kawan mala mini, ijinkan saya berbagi sedikit ilmu dari apa yang saya dapatkan hari ini, dalam rangka nasehat menasehati dalam kebenaran. Adapun tema yang diangkat pada tulisan ini adalah faidah-faidah yang terdapat dalam hadits ke 1 dalam kitab arba’in an-nawawi,</p><p> </p><p>Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:</p><p> </p><p><strong>إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه</strong><strong> </strong><strong> </strong></p><blockquote><em>&quot;Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya (mendapatkan pahala dan balasan hijrah). Barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia, atau untuk wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya itu </em><em>itu kepada apa yang menjadi tujuannya.&quot; <strong>(HR Bukhari dan Muslim)</strong></em></blockquote><p><em> </em><em>Kawan!, mengingat keterbatasan waktu dan kesibukan saya, hadits diatas tidak akan saya jelaskan maknanya secara mendetail pada tulisan ini, yang akan saya sampaikan hanya faidah-faidah penting</em>[1]<em> yang terdapat pada hadits ini, semoga bermanfaat bagi penulis dan juga kaum muslimin. Allahu waliyyut taufiq</em></p><p> </p><ol><li>Hadits ini menunjukkan tidak sahnya sebuah amal ibadah yang dilakukan tanpa disertai niat</li><li>Kadar pahala yang didapat seorang yang beramal bergantung pada benarnya niat</li><li>Pada haditsi ini terdapat keteladanan Nabi Shalallahu alaihi wa salam dalam mengajar, dimana beliau membuat perumpamaan dari apa yang beliau katakan sebelumnya. Dengan harapan apa yang beliau sampaikan lebih mudah dicerna dan dipahami oleh para sahabat. Sehingga selayaknya bagi kiat meniru pengajaran beliau shalallahu alaihi wa salam dalam majelis ilmu atau tempat-tempat lainnya.</li><li>Hadits ini menjelaskan pula keutamaan hijrah kepada Allah dan Rasul-nya.</li><li>Sesungguhnya setiap insan akan diberi pahala, atau mendapat dosa dari apa yang dia lakukan bergantung pada niatnya. Jika niatnya benar sesuai apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapat pahala, jika niatnya buruk maka baginya dosa. Semoga Allah melindungi kita dari buruknya niat</li><li>Sesungguhnya amalan yang mubah bisa menjadi sarana untuk mendapatkan pahala manakala dilakukan dengan niat yang baik, semisal makan, pada asalnya makan adalah perkara yang mubah, tidak diberi pahala dan juga mendapat dosa orang yang melakukannya, akan tetapi jika makan diniatkan untuk menjaga kesehatan tubuh agar mampu melakukan amal ketaatn berupa sholat, maka makan dalam hal ini adalah amalan yang berpahala. Allahu a’lam</li><li>Terkadang sebuah amalan merupakan sebab seseorang mendapatkan pahala, namun disaat yang lain merupakan sebab mendapatkan dosa. Missal seorang yang menuntut ilmu ikhlas karena Allah dalam rangka menghilangkan kebodohan dan beramal dengan ilmu, maka baginya pahala. Akan tetapi jika mencari ilmu untuk berbangga hati dengan  ilmunya atau merendahkan orang awam, maka baginya dosa disebabkan buruknya niat</li><li>Fungsi niat adalah membedakan antara amal ibadah satu dengan amal ibadah yang lainnya dan membedakan amal ibadah dengan adat kebiasaan.</li></ol><p>Sekian apa yang bisa saya sampaikan. Segala kekurangan yang terdapat pada tulisan ini berasal dari saya pribadi dan juga godaan syaitan, adapun kebenaran berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Alhamdulillah aladzi bi ni’matihi tatimus shalihaat</p><p> </p><p> </p><p> </p><p><strong>Amal tergantung Niat</strong>“ Segala Amal tergantung dari Niat, dan setiap pekerjaan adalah seSuai dengan apa yang telah diniatkan sebelumnya…” –al Hadist</p><p> </p><p>Sugesti berasal dari bahasa inggris yaitu suggest yang berarti menasehati, membayangkan, menyarankan, mempengaruhi. Auto sugesti secara bahasa dapat diartikan mempengaruhi diri sendiri.</p><p> </p><p>Auto sugesti adalah kemampuan diri kita dalam memberi pengaruh terhadap diri untuk memiliki keyakinan kuat atas keputusan atau pilihan-pilihan yang kita ambil. Auto sugesti sangat dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar yang kita miliki. Umumnya kita mengenal dua macam pikiran. Yaitu “pikiran sadar” dan “pikiran bawah sadar”.</p><p> </p><p>Pikiran bawah sadar yang kita miliki dapat menjadi mekanisme pencapaian kesuksesan maupun mekanisme kegagalan. Apabila kita mengangankan sesuatu dan optimis untuk melakukan proses pencapaiannya maka secara otomatis pikiran bawah sadar yang kita miliki menjadi mekanisme kesuksesan. Sebaliknya ketika apa yang kita inginkan dihantui kekhawatiran, pesimis dan was-was akan gagal maka secara otomatis pikiran bawah sadar kita akan berfungsi sebagai mekanisme kegagalan.</p><p> </p><p>Pikiran bawah sadar dalam diri kita merupakan bagian terpenting dalam memberikan sugesti sukses maupun sugesti gagal. Sebagai ilustrasi yang akan membantu kita mendapatkan gambaran tentang pikiran bawah sadar;“Sepotong besi baja tidak akan mampu menarik dan mengangkat sepotong jarumpun tanpa diberi daya magnet. Namun ketika baja tersebut diberikan daya magnet maka baja tersbut akan mampu menarik dan mengangkat besi lain yang beratnya beberapa kali lipat besi baja tersebut. Pikiran bawah sadar itulah daya magnet yang harus kita asah dan kita latih agar mampu memberikan suplai energi positip untuk pencapaian tujuan yang kita miliki.</p><p> </p><p>Aktivitas yang pernah kita lakukan, pengalaman yang kita lalui, maupun pekerjaan kita adalah merupakan reaksi pikiran bawah sadar. Seorang pengendara motor akan tahu seberapa cepat dia menarik gas untuk melampui beberapa kendaraan didepannya, seorang sopir tahu lebih cepat arah jalan yang harus ia pilih untuk mencapai target tujuan sebelum mobilnya melalui jalan yang ada dalam pikirannya. Seorang pasien akan merasa nyaman jika dihadapkan pada dokter spesialis “manjur” pilihannya atas dasar informasi pihak lain dibanding jika berhadapan pada dokter yang sama tanpa informasi ke”manjuran” pada tahap sebelumnya.</p><p> </p><p>Mekanisme bawah sadar sangat memberikan pengaruh pada sugesti-sugesti yang kita ambil, karena itulah apapun yang kita inginkan tanpa adanya keinginan kuat yang diiringi dengan prasangka positip kepada diri, kepada orang lain dan kepada Allah SWT maka keinginan itu hanya akan menjadi awal kekecewaan kita, karena setiap kegagalan pada dasarnya selalu diawali oleh gagalanya perencanaan. Gagal merencanakan berarti juga merencanakan kegagalan.</p><p> </p><p>Sejauh mana anda mampu membayangkan apa yang anda inginkan maka sejauh itu pula anda mampu menerjemahkan dalam kenyataan. Apa yang anda bayangkan tentang kesuksesan maka seperti itulah pada kenyataannya sukses bagi anda. Yang jadi masalah adalah ketika anda tidak mampu menerjemahkan kesuksesan seperti apakah yang anda inginkan, maka kesuksesanpun hanyalah angan kosong.</p><p> </p><p> </p><p> </p><p><strong>Arti Sebuah Niat </strong>Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlas untuk Allah semata.</p><p> </p><p>Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :</p><p> </p><p> الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ</p><p> </p><p><em>&quot;Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan&quot;.</em></p><p> </p><p>Hadits yang agung di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam beberapa tempat dari kitab shahihnya (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953) dan Imam Muslim rahimahullah dalam shahihnya (no. 1908).</p><p> </p><p>Berkata Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali tentang hadits ini :&quot;Yahya bin Said Al Anshari bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dari `Alqamah bin Waqqash Al Laitsi, dari Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu. Dan tidak ada jalan lain yang shahih dari hadits ini kecuali jalan ini. Demikian yang dikatakan oleh Ali ibnul Madini dan selainnya”. Berkata Al Khaththabi : &quot;Aku tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ahli hadits dalam hal ini sementara hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Abu Said Al Khudri dan selainnya”. Dan dikatakan: Hadits ini diriwayatkan dari jalan yang banyak akan tetapi tidak ada satupun yang shahih dari jalan-jalan tersebut di sisi para huffadz (para penghafal hadits).</p><p> </p><p>Kemudian setelah Yahya bin Said Al Anshari banyak sekali perawi yang meriwayatkan darinya, sampai dikatakan : Telah meriwayatkan dari Yahya Al Anshari lebih dari 200 perawi. Bahkan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 700 rawi, yang terkenal dari mereka di antaranya Malik, Ats Tsauri, Al Auza`i , Ibnul Mubarak, Al Laits bin Sa`ad, Hammad bin Zaid, Syu`bah, Ibnu `Uyainah dan selainnya. .</p><p> </p><p>Ulama bersepakat menshahihkan hadits ini dan menerimanya dengan penerimaan yang baik dan mantap. Imam Bukhari membuka kitab Shahihnya dengan hadits ini dan menempatkannya seperti khutbah/mukaddimah bagi kitab beliau, sebagai isyarat bahwasanya setiap amalan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah maka amalan itu batil, tidak akan diperoleh buah/hasilnya di dunia terlebih lagi di akhirat. Karena itulah berkata Abdurrahman bin Mahdi: &quot;Seandainya aku membuat bab-bab dalam sebuah kitab niscaya aku tempatkan pada setiap bab hadits Umar tentang amalan itu dengan niatnya”. Beliau juga mengatakan: &quot;Siapa yang ingin menulis sebuah kitab maka hendaknya ia memulai dengan hadits <em>innamal a&#039;malu binniyah</em>. <strong>(Jam`iul `Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 59-60. Muassasah Ar Risalah, cet. Ke-4, th. 1413 H/1993 M) </strong></p><p> </p><p>Hadits ini selain diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan oleh para imam yang lain. Dan komentar tentang hadits ini kami cukupkan dari menukil ucapan Ibnu Rajab Al Hambali di atas karena padanya ada kifayah (kecukupan).</p><p> </p><p><strong>Penjelasan Hadits </strong></p><p> </p><p>Dari hadits di atas kita pahami bahwasanya setiap orang akan memperoleh balasan amalan yang dia lakukan sesuai dengan niatnya. Dalam hal ini telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: &quot;Setiap amalan yang dilakukan seseorang apakah berupa kebaikan ataupun kejelekan tergantung dengan niatnya. Apabila ia tujukan dengan perbuatan tersebut niatan/maksud yang baik maka ia mendapatkan kebaikan, sebaliknya bila maksudnya jelek maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan&quot;. Beliau juga mengatakan: &quot;Hadits ini mencakup di dalamnya seluruh amalan, yakni setiap amalan harus disertai niat. Dan niat ini yang membedakan antara orang yang beramal karena ingin mendapatkan ridla Allah dan pahala di negeri akhirat dengan orang yang beramal karena ingin dunia apakah berupa harta, kemuliaan, pujian, sanjungan, pengagungan dan selainnya&quot;. <strong>(Makarimul Akhlaq, hal 26 dan 27)</strong></p><p> </p><p>Di sini kita bisa melihat arti pentingnya niat sebagai ruh amal, inti dan sendinya. Amal menjadi benar karena niat yang benar dan sebaliknya amal jadi rusak karena niat yang rusak.</p><p> </p><p>Dinukilkan dari sebagian salaf ucapan mereka yang bermakna: &quot;Siapa yang senang untuk disempurnakan amalan yang dilakukannya maka hendaklah ia membaikkan niatnya. Karena Allah ta`ala memberi pahala bagi seorang hamba apabila baik niatnya sampaipun satu suapan yang dia berikan (akan diberi pahala)&quot;.</p><p> </p><p>Berkata Ibnul Mubarak rahimahullah: &quot;Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya&quot;. <strong>(Jamiul Ulum wal Hikam, hal. 71) </strong></p><p> </p><p>Perlu diketahui bahwasanya suatu perkara yang sifatnya mubah bisa diberi pahala bagi pelakunya karena niat yang baik. Seperti orang yang makan dan minum dan ia niatkan perbuatan tersebut dalam rangka membantunya untuk taat kepada Allah dan bisa menegakkan ibadah kepada-Nya. Maka dia akan diberi pahala karena niatnya yang baik tersebut. Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan : &quot;Perkara mubah pada diri orang-orang yang khusus dari kalangan muqarrabin (mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah) bisa berubah menjadi ketaatan dan qurubat (perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah) karena niat&quot;. <strong>(Madarijus Salikin 1/107)</strong></p><p> </p><p>Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim (7/92) ketika menjelaskan hadits:Dan pada kemaluan salah seorang dari kalian (menggauli istri) ada sedekah.Beliau menyatakan: &quot;Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwasanya perkara-perkara mubah bisa menjadi amalan ketaatan dengan niat yang baik. Jima’ (bersetubuh) dengan istri bisa bernilai ibadah apabila seseorang meniatkan untuk menunaikan hak istri dan bergaul dengan cara yang baik terhadapnya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, atau ia bertujuan untuk mendapatkan anak yang shalih, atau untuk menjaga kehormatan dirinya atau kehormatan istrinya dan untuk mencegah keduanya dari melihat perkara yang haram, atau berfikir kepada perkara haram atau berkeinginan melakukannya dan selainnya dari tujuan-tujuan yang tidak baik&quot;.<strong>(Syarh Muslim 3/44)</strong></p><p> </p><p><strong>Meluruskan Niat </strong>Seorang hamba harus terus berupaya memperbaiki niatnya dan meluruskannya agar apa yang dia lakukan dapat berbuah kebaikan. Dan perbaikan niat ini perlu mujahadah (kesungguh-sungguhan dengan mencurahkan segala daya upaya). Karena sulitnya meluruskan niat ini sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata : &quot;Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku&quot;. <strong>(Hilyatul Auliya 7/5 dan 62)</strong></p><p> </p><p>Dan niat itu harus ditujukan semata untuk Allah, ikhlas karena mengharapkan wajah-Nya yang Mulia. Ibadah tanpa keikhlasan niat maka tertolak sebagaimana bila ibadah itu tidak mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Allah ta`ala berfirman tentang ikhlas dalam ibadah ini :</p><p> </p><p>وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ</p><p> </p><p><em>Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama bagi-Nya. </em><strong>(Al Bayyinah : 5)</strong></p><p> </p><p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu` Fatawa (10/49) : &quot;Mengikhlaskan agama untuk Allah adalah pokok ajaran agama ini yang Allah tidak menerima selainnya. Dengan ajaran agama inilah Allah mengutus rasul yang pertama sampai rasul yang akhir, yang karenanya Allah menurunkan seluruh kitab. Ikhlas dalam agama merupakan perkara yang disepakati oleh para imam ahlul iman. Dan ia merupakan inti dari dakwah para nabi dan poros Al Qur&#039;an&quot;.</p><p> </p><p>Yang perlu diingat bahwasanya niat itu tempatnya di hati sehingga tidak boleh dilafazkan dengan lisan. Bahkan termasuk perbuatan bid``ah bila niat itu dilafazkan.</p><p> </p><p><strong>Pelajaran Yang Dipetik dari Hadits Ini</strong>1. Niat itu termasuk bagian dari iman karena niat termasuk amalan hati.2. Wajib bagi seorang muslim mengetahui hukum suatu amalan sebelum ia melakukan amalan tersebut, apakah amalan itu disyariatkan atau tidak, apakah hukumnya wajib atau sunnah. Karena di dalam hadits ditunjukkan bahwasanya amalan itu bisa tertolak apabila luput darinya niatan yang disyariatkan.3. Disyaratkannya niat dalam amalan-amalan ketaatan dan harus dita`yin (ditentukan) yakni bila seseorang ingin shalat maka ia harus menentukan dalam niatnya shalat apa yang akan ia kerjakan apakah shalat sunnah atau shalat wajib, dhuhur, atau ashar, dst. Bila ingin puasa maka ia harus menentukan apakah puasanya itu puasa sunnah, puasa qadha atau yang lainnya.4. Amal tergantung dari niat, tentang sah tidaknya, sempurna atau kurangnya, taat atau maksiat.5. Seseorang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan namun perlu diingat niat yang baik tidaklah merubah perkara mungkar (kejelekan) itu menjadi ma&#039;ruf (kebaikan), dan tidak menjadikan yang bid`ah menjadi sunnah.6. Wajibnya berhati-hati dari riya, sum`ah (beramal karena ingin didengar orang lain) dan tujuan dunia yang lainnya karena perkara tersebut merusakkan ibadah kepada Allah ta`ala.7. Hijrah (berpindah) dari negeri kafir ke negeri Islam memiliki keutamaan yang besar dan merupakan ibadah bila diniatkan karena Allah dan Rasul-Nya.</p><p> </p><p> </p><p><em><strong>Wssalamualaikum Wr. Wb.</strong></em></p></div>]]></description>
      <pubDate>Fri, 10 Aug 2012 04:56:55 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/doa-waktu-pagi-dan-sore-hari/2939590173639</guid>
      <title><![CDATA[Do'a waktu pagi dan sore hari]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/doa-waktu-pagi-dan-sore-hari/2939590173639</link>
      <description><![CDATA[<div><p>Assalamualaikum Wr. Wb.</p><p> </p><p><strong>Do&#039;a pagi dan sore hari</strong></p><p> </p><p>أعوذ بالله من الشيطان الرجيم- اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ</p><p>Artinya:</p><p>Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa&#039;at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255). [1]</p><p> </p><p> </p><p>قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ</p><p>قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ</p><p>قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ</p><p>Artinya:</p><p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada- Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. [2]</p><p> </p><p> </p><p>أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.</p><p>Artinya:</p><p>“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.” [3]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ.</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).” [4]</p><p> </p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” [5]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ أُشْهِدُ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ، وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ، أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah! Sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul arasyMu, malaikat-malaikat dan seluruh makhlukMu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiMu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca empat kali waktu pagi dan sore). [6]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ.</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah! Nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhlukMu di pagi ini adalah dariMu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. BagiMu segala puji dan kepadaMu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu).” [7]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah! Selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali di waktu pagi dan sore).(3X) [8]</p><p> </p><p> </p><p>حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ.</p><p>Artinya:</p><p>“Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, kepadaNya aku bertawakal. Dia-lah Tuhan yang menguasai ‘Arsy yang agung.” (Dibaca tujuh kali waktu pagi dan sore). [9]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ.</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ulat atau bumi pecah yang membuat aku jatuh dan lain-lain).” [10]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ.</p><p>Artinya:</p><p>“Ya Allah! Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.” [11]</p><p> </p><p>بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.</p><p>Artinya:</p><p>“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca tiga kali). [12]</p><p> </p><p>رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا.</p><p>Artinya:</p><p>“Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi (yang diutus oleh Allah).” (Dibaca tiga kali). [13]</p><p> </p><p>يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.</p><p>Artinya:</p><p>“Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).” [14]</p><p> </p><p> </p><p>أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ.</p><p>Artinya:</p><p>”Kami masuk pagi, sedang kerajaan hanya milik Allah, Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu agar memperoleh kebaikan, pembuka (rahmat), pertolongan, cahaya, berkah dan petunjuk di hari ini. Aku berlindung kpadaMu dari kejelekan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan sesudahnya.” [15]</p><p> </p><p> </p><p>أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ.</p><p>Artinya:</p><p>“Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad, dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” [16]</p><p> </p><p> </p><p>سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.</p><p>Artinya:</p><p>“Maha Suci Allah, aku memujiNya.” (Dibaca seratus kali). [17]</p><p> </p><p> </p><p> </p><p> </p><p>لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. (10× أو 1× عند الكسل)</p><p>Artinya:</p><p>“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca sepuluh kali, atau cukup sekali dalam keadaan malas). [18]</p><p> </p><p> </p><p>لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. (100× إذا أصبح)</p><p>Artinya:</p><p>“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca seratus kali setiap pagi hari). [19]</p><p> </p><p> </p><p> </p><p>سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ. (3× إذا أصبح)</p><p>Artinya:</p><p>“Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhlukNya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan arasyNya dan sebanyak tinta tulisan kalimatNya.” (Dibaca tiga kali setiap pagi hari). [20]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. (إذا أصبح)</p><p>Artinya:</p><p>Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima. (Dibaca pagi hari). [21]</p><p> </p><p> </p><p>أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. (100× في اليوم)</p><p>Artinya:</p><p>Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepadaNya. (Dibaca 100 kali dalam sehari). [22]</p><p> </p><p> </p><p>أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. (3× إذا أمسى)</p><p>Artinya:</p><p>Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya. (Dibaca 3 kali pada sore hari). [23]</p><p> </p><p> </p><p>اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.</p><p>Artinya:</p><p>Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad. (Dibaca 10 kali). [24] </p><p> </p><p><strong><em>ALASAN DAN KETERANGAN</em></strong></p><p>---------------------------------</p><p><em>[1] “Barangsiapa membaca kalimat ini ketika pagi hari, maka ia dijaga dari (ganguan) jin hingga sore hari. Dan barangsiapa mengucapkannya ketika sore hari, maka ia dijaga dari (ganguan) jin hingga pagi hari.” HR. Al-Hakim, 1/562. Al-Albani berpendapat hadits tersebut shahih dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/273 dan beliau menisbatkan hadits tersebut kepada An-Nasa’i dan Ath-Thabrani, beliau berkata, isnad Ath-Thabrani jayyid’.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[2] “Barangsiapa membaca tiga surat tersebut tiga kali setiap pagi dan sore hari, maka itu (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu.” HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidzi 5/567 dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/182.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[3] HR. Muslim 4/2088.</em></p><p><em>Kalau sore hari membaca:</em></p><p><em>أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ (dst.)</em></p><p><em>Kalau sore hari membaca:</em></p><p><em>رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[4]. HR. At-Tirmidzi 5/466, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/142.</em></p><p><em>Kalau sore hari membaca:</em></p><p><em>اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[5] “Barangsiapa membacanya dengan yakin ketika sore hari, lalu ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia masuk Surga. Dan demikian juga ketika pagi hari.” HR. Al-Bukhari 7/150.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[6] “Barangsiapa membaca doa ini ketika pagi dan sore hari sebanyak empat kali, maka Allah akan membebaskannya dari api Neraka.” HR. Abu Dawud 4/317, Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1201, An-Nasai dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 9 halaman 138, Ibnu Sunni no. 70, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menyatakan, bahwa sanad hadits Abu Dawud dan An-Nasai adalah hasan, lihat juga Tuhfatul Akhyar, halaman 23.</em></p><p><em>Jika sore hari membaca:</em></p><p><em>اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَمْسَيْتُ …</em></p><p><em> </em></p><p><em>[7] “Barangsiapa yang membacanya di pagi hari, maka sungguh telah bersyukur pada hari itu. Barangsiapa yang membaca ini di sore hari, maka sungguh telah bersyukur pada malam itu.” HR. Abu Dawud 4/318, An-Nasai dalam kitab ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 7, halaman 137, Ibnu Sunni no. 41, halaman 23 Ibnu Hibban (Mawaarid) no. 2361. Abdul Aziz bin Baz menyatakan, bahwa sanad hadits tersebut hasan, lihat Tuhfatul Akhyar, halaman 24.</em></p><p><em>Jika sore hari membaca:</em></p><p><em>اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِيْ …</em></p><p><em> </em></p><p><em>[8] HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 22, halaman 146, Ibnus Sunni no. 69. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menyatakan sanad hadits tersebut hasan. Lihat juga Tuhfatul Akhyar, halaman 26.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[9] “Barangsiapa membacanya ketika pagi dan sore hari sebanyak tujuh kali, maka Allah akan mencukupkan baginya dari perkara dunia dan akhirat yang menjadi perhatiannya.” H.R. Ibnus Sunni no. 71 secara marfu’ dan Abu Dawud secara mauquf 4/321. Syu’aib dan Abdul Qadir Al-Arnauth berpendapat, isnad hadits tersebut shahih. Lihat Zaadul Ma’ad 2/376.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[10] HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[11] HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 3/142.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[12] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore hari, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya.” HR. Abu Dawud 4/323, At- Tirmidzi 5/465, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Shahih Ibnu Majah 2/332, Al-Allamah Ibnu Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar hal. 39.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[13] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore hari, maka hak Allah memberikan keridhaanNya kepadanya pada hari Kiamat.” HR. Ahmad 4/337, An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 4 dan Ibnus Sunni no. 68. Abu Daud 4/418, At-Tirmidzi 5/465 dan Ibnu Baaz berpendapat, hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar, hal. 39.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[14] HR. Al-Hakim, menurut pendapatnya, hadits tersebut adalah shahih, dan Imam Adz-Dzahabi me-nyetujuinya, lihat kitabnya 1/545, dan Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/273.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[15] Apabila sore hari, membaca:</em></p><p><em>أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ؛ فَتْحَهَا، وَنَصْرَهَا وَنُوْرَهَا، وَبَرَكَتَهَا، وَهُدَاهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا.</em></p><p><em>HR. Abu Dawud 4/322 serta Syu’ab dan Abdul Qadir Al-Arnauth dalam Tahqiq Zadul Ma’ad, 2/273.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[16] HR. Ahmad 3/406-407, 5/123. Lihat juga Shahihul Jami’ 4/290. Ibnus Sunni juga meriwayatkannya di ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 34.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[17] HR. Muslim 4/2071.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[18] HR. Abu Dawud 4/319, Ibnu Majah dan Ahmad 4/60. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/270, Shahih Abu Dawud 3/957, Shahih Ibnu Majah 2/331, dan Zadul Ma’ad 2/377.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[19] “Barangsiapa membacanya sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya (pahala) seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, baginya perlindung-an dari setan pada hari itu hingga sore hari. Tidaklah seseorang itu dapat mendatangkan yang lebih baik dari apa yang dibawanya kecuali ia melakukan lebih banyak lagi dari itu.” HR. Al-Bukhari 4/95; Muslim 4/2071.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[20] HR. Muslim 4/2090.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[21] HR. Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 54, dan Ibnu Majah no. 925. Isnadnya hasan menurut Abdul Qadir dan Syu’aib Al-Arna’uth dalam tahqiq Zad Al-Ma’ad 2/375.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[22] HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/101, dan Muslim 4/2075.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[23] “Barangsiapa membaca doa ini pada sore hari sebanyak tiga kali, tidak berbahaya baginya sengatan (binatang berbisa) pada malam itu”. HR. Ahmad 2/290, An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 590 dan Ibnu Sunni no. 68. Lihat Shahih At-Tirmidzi 3/187, Shahih Ibnu Majah 2/266 dan Tuhfatul Akhyar, hal. 45.</em></p><p><em> </em></p><p><em>[24] “Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali pada pagi hari, dan sepuluh kali pada sore hari, mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” HR. At-Thabrani melalui dua isnad, keduanya baik. Lihat Majma’ Az-Zawaid 10/120 dan Shahih At- Targhib wat Tarhib 1/273.</em></p><br /></div>]]></description>
      <pubDate>Mon, 26 Mar 2012 18:22:51 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/blogspot-untuk-diubah-link-menjadi-cocc/2680954307904</guid>
      <title><![CDATA[Blogspot untuk diubah link menjadi Co.Cc]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/blogspot-untuk-diubah-link-menjadi-cocc/2680954307904</link>
      <description><![CDATA[<div><p><strong>Blogspot.com</strong> adalah domain default yang diberikan bila kita membuat blog di Blogspot.com. Sebenarnya ini bukan domain tetapi subdomain. Ada begitu banyak situs yang menyediakan nama domain gratis untuk Anda, dengan domain yang peringkat yang cukup baik, salah satunya adalah domain. CO.CC</p><p> </p><p>Anda dapat menggunakan domain. CO.CC domain sebagai alternatif pengganti.Blogspot.com.Jika Anda menggunakan domain. CO.CC, awalnya bernama blogkamu.blogspot.com domain Anda, Anda dapat berubah menjadi <a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.blogkamu.co.cc&amp;h=PAQHixdRC&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow" onmouseover="LinkshimAsyncLink.swap(this, &quot;http:\/\/www.blogkamu.co.cc\/&quot;);" onclick="LinkshimAsyncLink.referrer_log(this, &quot;http:\/\/www.blogkamu.co.cc\/&quot;, &quot;\/si\/ajax\/l\/render_linkshim_log\/?u=http\u00253A\u00252F\u00252Fwww.blogkamu.co.cc&amp;h=PAQHixdRC&amp;render_verification=0&amp;enc&quot;);">www.blogkamu.co.cc</a>, sehingga akan terlihat lebih ringkas dan profesional.Meskipun perubahan ke domain memenuhi tuntutan tersebut. CO.CC blogspot domain Anda masih dapat diakses secara langsung akan diarahkan ke domain baru yaitu Anda. CO.CC.</p><p> </p><p>Bagi Anda yang tertarik dalam mengubah domain Blogspot.com. CO.CC, berikut ini saya akan menjelaskan bagaimana langkah langkah demi langkah</p><p> </p><p>1. Pertama, cek ketersediaan domain. CO.CC yang Anda inginkan pada formulir di bawah inimisalnya: <a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.obik.co.cc&amp;h=xAQFP5_Vp&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow" onmouseover="LinkshimAsyncLink.swap(this, &quot;http:\/\/www.obik.co.cc\/&quot;);" onclick="LinkshimAsyncLink.referrer_log(this, &quot;http:\/\/www.obik.co.cc\/&quot;, &quot;\/si\/ajax\/l\/render_linkshim_log\/?u=http\u00253A\u00252F\u00252Fwww.obik.co.cc&amp;h=xAQFP5_Vp&amp;render_verification=0&amp;enc&quot;);">www.obik.co.cc</a></p><p> </p><p>2. Jika tersedia dan harganya adalah $ 0 atau gratis, maka klik Lanjutkan ke pendaftaran</p><p> </p><p>3. Jika Anda sudah memiliki account. CO.CC Anda hanya login dengan account tersebut, bagi mereka yang tidak memiliki klik Buat account baru sekarang</p><p> </p><p>4. Bagi mereka yang mendaftar terlebih dahulu, Anda akan disajikan dengan formulir pendaftaran, Anda hanya mengisinya sesuai dengan identitas Anda, untuk mengisi url situs formulir dengan domain yang Anda inginkan untuk mendaftar. Jika sudah selesai, klik Lanjutkan</p><p> </p><p>5. Login berikutnya ke account Anda adalah setup untuk domain Anda atau regulator.</p><p> </p><p>6. Kemudian klik Manage Domain dan klik Setup pada domain Anda ingin mengatur</p><p> </p><p>7. Klik Zone Records, untuk mengarahkan domain Anda ke blogspot. Isi pengaturan berikut:</p><p> </p><p>Host mengisi <a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.namadomainkamu.co.cc&amp;h=eAQEp7_wJ&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow" onmouseover="LinkshimAsyncLink.swap(this, &quot;http:\/\/www.namadomainkamu.co.cc\/&quot;);" onclick="LinkshimAsyncLink.referrer_log(this, &quot;http:\/\/www.namadomainkamu.co.cc\/&quot;, &quot;\/si\/ajax\/l\/render_linkshim_log\/?u=http\u00253A\u00252F\u00252Fwww.namadomainkamu.co.cc&amp;h=eAQEp7_wJ&amp;render_verification=0&amp;enc&quot;);">www.namadomainkamu.co.cc</a> (dengan www)TTL pilih 1DKetik pilih CNAMENilai masukkan ghs.google.com</p><p> </p><p>Habis itu klik Pengaturan untuk menyimpan pengaturan Anda. Di sini kita selesai membuat domain kita, kita hidup domain blogspot redirect ke domain ini.</p><p> </p><p>8. Langkah selanjutnya Blogger Anda Masuk Rekening</p><p> </p><p>9. Klik Pengaturan pergi ke halaman Publikasi dan klik Costum Domain</p><p> </p><p>10. Klik Advanced Settings untuk beralih pengaturan domain Anda lebih lanjut.</p><p> </p><p>11. Isi domain. CO.CC diform yang telah disediakan, dan mengisi Kode Verifikasi.Kemudian klik Simpan Pengaturan</p><p> </p><p>12. Kami selesai membuat domain kita, tapi Anda jangan buru-buru keluar dari halaman ini, setelah pengaturan kesuksesan. Periksa atau Periksa redirect domainkamu.co.cc untuk <a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.domainkamu.co.cc&amp;h=oAQF90FZG&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow" onmouseover="LinkshimAsyncLink.swap(this, &quot;http:\/\/www.domainkamu.co.cc\/&quot;);" onclick="LinkshimAsyncLink.referrer_log(this, &quot;http:\/\/www.domainkamu.co.cc\/&quot;, &quot;\/si\/ajax\/l\/render_linkshim_log\/?u=http\u00253A\u00252F\u00252Fwww.domainkamu.co.cc&amp;h=oAQF90FZG&amp;render_verification=0&amp;enc&quot;);">www.domainkamu.co.cc</a> dan klik Simpan Pengaturan, selesaikan di sini. Untuk pengaturan ini paling lama memakan waktu 2x24 jam untuk mengarahkan domain Anda ke domain. Co.cc.</p><blockquote><p><a href="http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Ftrick-kita.blogspot.com%2F2011%2F12%2Fblogspot-ke-cocc.html&amp;h=9AQHi5Rj5&amp;s=1" target="_blank" rel="nofollow" onmouseover="LinkshimAsyncLink.swap(this, &quot;http:\/\/trick-kita.blogspot.com\/2011\/12\/blogspot-ke-cocc.html&quot;);" onclick="LinkshimAsyncLink.referrer_log(this, &quot;http:\/\/trick-kita.blogspot.com\/2011\/12\/blogspot-ke-cocc.html&quot;, &quot;\/si\/ajax\/l\/render_linkshim_log\/?u=http\u00253A\u00252F\u00252Ftrick-kita.blogspot.com\u00252F2011\u00252F12\u00252Fblogspot-ke-cocc.html&amp;h=9AQHi5Rj5&amp;render_verification=0&amp;enc&quot;);">http://trick-kita.blogspot.com/2011/12/blogspot-ke-cocc.html</a></p></blockquote></div>]]></description>
      <pubDate>Wed, 08 Feb 2012 02:25:03 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/mufid-manfaatnya/2225094711699</guid>
      <title><![CDATA[MUFID (MANFAATNYA)]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/mufid-manfaatnya/2225094711699</link>
      <description><![CDATA[<div><p><em><strong>Assalamualaikum Wr. Wb.</strong></em></p><p><strong>Bentuk Tulisan/Kalam/Pembicaraan paling tidak harus diperhatikan :</strong></p><p>1. Lafadnya (tulisannya),</p><p>2. Murokab (penyatuannya),</p><p>3. Mufid (faidah/guna/manfaatnya),</p><p>4. Wadho (penempatan sesuai bukti yang nyata).</p><p>5. Balagoh (pemakna&#039;an, penjelasan dan perumpamaan),</p><p>6. Mantiq (pembicaraan dan penyampaian)</p><p>7. Usuly (dasar hukum dan cara penggaliannya)</p><p>8. Dan yang lainnya.</p><p> </p><p><strong>MENGGARIS BAWAHI MUFID (MANFAATNYA)</strong></p><p>Makna tulisan/pembicaraan yang faidah memurut Ahli Tata Bahasa Arab (نحويين):</p><p>ما أفاد فائدة يحسن السكوت من المتكلم و السامع عليها</p><p>&quot;Sesuatu yang memiliki penjelasan yang bermanfaat, yang membuat sipembicara tamat pembicaraannya dan terdiam karena kesempurnaannya, begitupun si pendengarnya&quot;.</p><p> </p><p><em><strong>Maksudnya ada keterkaitan satu dengan yang lainnya, diantaranya:</strong></em></p><p><em><strong></strong></em></p><p><strong>Pertama:</strong></p><p>Penulis/Pembicara menjelaskan dengan baik, tertib serta pembicaraan bahasanya berikut pelaturan yang diterima, sehingga pembaca/pendengar terdiam asyik, menarik, tidak membosankan serta diterima dengan Naqli, Aqli dan Adat.</p><p><strong>Sekilas Bahasa dan Maknanya:</strong></p><p>1. Bahasa Lisan</p><p>2. Bahasa Tulisan, mufrodat-tafsirat-mufahamat-fikriyat-tausiat-amaliyat dan lainnya,</p><p>3. Bahasa Isyarat,</p><p>4. Bahasa Hati,</p><p>5. Bahasa Ahwal/Perbuatan,</p><p>6. Bahasa Hewan,</p><p>7. Bahasa Tumbuhan,</p><p>8. Bahasa Benda,</p><p>9. Bahasa Suara,</p><p>10. Bahasa Alam,</p><p>11. Dan bahasa lainnya.</p><p><strong>Makna terkandung dalam bahasa masing-masing:</strong></p><p>1). Artinya dan Sebabnya,</p><p>2). Maksud dan Tujuan,</p><p>4). Keutamaan dan Unggulan</p><p>5). Masalah/Bahasan : Pembukaan/Dasar, Inti/Pokok dan Kesimpulan.</p><p>6). Manfaat/Guna yang didapat,</p><p>7). Persambungan dengan yang lainnya,</p><p>8). Hukumnya,</p><p>9). Pertangung jawabannya,</p><p>10). Pembagian dan cara pembelajarannya.</p><p>11). Dan makna lainnya.</p><p>Setelah kita menela&#039;ah dan memahami bahasa; ternyata tulisan dan isinya baru satu bagian dari berbagai macam bahasa yang harus dipelajarinya:</p><p>Contoh:</p><p>&#123;1&#125; بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</p><p>&quot;Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang&quot;.</p><p>Coba kita tanya pada diri masing-masing;</p><p>Sejauhmana kita sebagai Penulis/Pembicara tahu akan contoh tersebut?....</p><p>Apa yang didapat hubungan kita ketika Mutakallim wahdah (pembicara sendirian), Mutakallim Ma&#039;al Goil (Pembicara banyakan), Kaatib (Penulis), Saami&#039; (Pendengar), Fail (Pelaksana), atau Mafulbih (Objek), dan keberadaan lainnya?....</p><p>Jawaban ada pada diri masing-masing, itulah kita!. Bukti hanya Alloh yang Maha Aalim dan mengharuskan kita belajar terus menerus hingga akhir hayat!.</p><p>Mari kita sama-sama tela&#039;ah!.</p><p> </p><p><strong>Kedua:</strong></p><p>Pembaca/Pendengar meresa cukup atas penjelasan Pembicara/Penulis, karena kelimatnya sempurna bisa dimengerti dan difahami baik kata, bahasa, cara penyampaian, isi bahasan, susunan kata (Subjek, Predikat dan Objek serta tambahan lainnya lengkap), kesimpulan serta lainnya, dan tidak perlu bertanya, seolah sudah ada jawabannya.</p><p>Contoh:</p><p>&#123;1&#125; بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</p><p>&quot;Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang&quot;.</p><p>Sejauhmana kita sebagai Pembaca/Pendengar tahu akan contoh lafad Surat Al-Fatihah ayat 1 tersebut?....</p><p>Perhatikan!.</p><p>Kemungkinan Pembaca/Pendengar yg dihadapi:</p><p>1). Sudah tahu,</p><p>2). Pura-pura tidak tahu, Tahu tapi lupa,</p><p>3). Sama sekali belum tahu.</p><p>Begitupun cara untuk penerimaan Pembaca/Pendengar:</p><p>1). Pinter (cepat diterima),</p><p>2). Sedang (pinter tidak bodoh tidak),</p><p>3). Bodoh.</p><p>Dan juga mesti diteliti alat pembelajarannya, penerimaanya,</p><p> </p><p><strong>Ketiga:</strong></p><p>Isi yang dibicarakan berkwalitas, berfaidah/berguna, bermanfaat dan bermutu yang unggul,</p><p>Unggul bermutu memiliki ciri sebagai berikut:</p><p>1) Memiliki keistimewaan,</p><p>2) Memiliki nilai lebih (added value),</p><p>3) Dapat dinikmati banyak fihak,</p><p>4) Diakui oleh lawan maupun kawan,</p><p>5) Tidak mengarah pada arogansi,</p><p>6) Cenderung untuk mendapatkan yang lebih dari yang ada selama ini,</p><p>7) Menambah kesadaran diri,</p><p>8) Menambah kekuatan iman terhadap ke-Maha Kuasaan Allah,</p><p>9) Dan lainnya.</p><p> </p><p><strong>Keempat:</strong></p><p>Penyampaian dengan niat baik karena Alloh, tegas, benar, jujur, terbuka, tertib, bijaksana, melihat bahasanya tergantung orangnya, daerahnya, adat setempatnya, tetapi berkeharusan si Penyaji sesuai dgn Tata Bahasa masing-masingnya, dan difahami si Penerima, mentasorufkan masuk di Naqli, Aqli dan Adi, dilalah/pertanda ke akidan sajian harus jelas, pergunakan bahasa yang dimengerti banyak kalangan, terkonsep, rapih, teliti sebelum bertindak menyampaikan.</p><p>Mutlaq Penyampaian:</p><p>1). Tahu apa yang disampaikan,</p><p>2). Memahaminya dengan jelas,</p><p>3). Sebelum keorang diri sendiri duluan,</p><p>4). Tidak membingungkan pembaca/pendengar,</p><p>5). Bisa dipertanggungjawabkan,</p><p>6). Dan lainnya.</p><p> </p><p><strong>Kelima:</strong></p><p>feedback masalah disikapi dengan bijaksana, dasar keyakinan, perjalanan ilmu, landasan amal, pegangan hati ikhlas, cara yang terampil, gapai laksana syukur, selalu memohon pertolongan kepada Alloh SWT serta jalankan buah nilai iman serta terus berukhuwah dengan sesama.</p><p> </p><p><strong>keenam:</strong></p><p>Dan lainnya.</p><p>Seraya kita terus belajar, mempelajari, memahami, berkarya dan beramal, saling nasihat dengan sesama, semoga Alloh memberi pemahaman banyak kepada kita semua, sehingga tercapai bahagia dunia dan akhirat.</p></div>]]></description>
      <pubDate>Mon, 14 Nov 2011 23:08:35 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/memahami-tanda-bahasa-isyarat/2148430195134</guid>
      <title><![CDATA[MEMAHAMI TANDA BAHASA ISYARAT]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/memahami-tanda-bahasa-isyarat/2148430195134</link>
      <description><![CDATA[<div><p>Assalamualaikum Wr. Wb.</p><p>Bila kita bisa membaca, memahami dan mengikuti sesuai petunjuk dalam bahasa isyarat, tentu lain!, cara kita akan perbuat, diantaranya;</p><p>1. Tanda-tanda dalam tulisan: Seperti tanda titik (.), koma (,), tanda seru (!), tanda tanya (?) dan tanda-tanda lainnya.</p><p>2. Tanda isyarat jalan: Seperti petunjuk jalan, dilarang berhenti, dilarang parkir dan yang lainnya.</p><p>3. Tanda suara: Seperti suara kelakson, suara musik, dan suara-suara lainnya.</p><p>4. Isyarat angota tubuh: Seperti orang bingung pegang kepala, orang gembira bukti ketawa, isyarat tangan, kedip mata dan lainnya.</p><p>5. Isyarat benda: Seperti kendaraan berhenti karena habis bensin dan ketika tidak dipakai serta benda-benda lainnya.</p><p>6. Isyarat Alam: Seperti adanya malam gelap, sing terang, ada hujan, angin dan lain-lainnya.</p><p>7. Dan lain-lainnya.</p><p>Makin kita mengetahuinya dan memahami, makin lain cara kita bertindaknya. Benarkah itu?...</p><p>Ayo tela&#039;ah!.</p></div>]]></description>
      <pubDate>Sat, 22 Oct 2011 13:59:12 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/bangun-dari-perumpamaan-mati-tidur/2136888306594</guid>
      <title><![CDATA[BANGUN DARI PERUMPAMAAN MATI (TIDUR)]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/bangun-dari-perumpamaan-mati-tidur/2136888306594</link>
      <description><![CDATA[<div><p>Assalamualaikum Wr. Wb.</p><p>Suasana bangun pagi tergantung cara melakukannya, seingatnya dari perimpamaan mati, awal teringat kepada Alloh dengan membaca do&#039;a:</p><p>قال صلى الله عليه وسلم : &quot; من تعار من الليل فقال حين يستيقظ : لاإله إلا الله وحده لاشريك له . له الملك وله الحمد ، وهو على كل شئ قدير . سبحان الله والحمد لله و لاإله إلا الله والله أكبر ولاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم ثم دعا رب اغفر لي . غُفر له &quot; قال الوليد : أو قال &quot; دعا استجيب له . فإن قام وتوضأ ثم صلى قبلت صلاته</p><p>&quot; الحمد لله الذي عافاني في جسدي ورد علي روحي وأذن لي بذكره</p><p>(حديث مرفوع) أخبرنا أبو الفضل عباس بن أحمد بن حمدان الرقي ، أنا أبو القاسم إبراهيم بن ناصح ، أنا بن عيينة ، عن عبد الملك بن عمير ، عن ربعي بن خراش ، عن حذيفة بن اليمان , قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم ، إذا استيقظ من منامه ، قال : &quot; الحمد لله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور &quot; .</p><p>رُويَ في صحيح البخاري عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنهما ، و عن أبي ذرّ رضي الله عنه قالا : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا أوى إلى فراشه قال : (( باسمك اللهم أحيا و أموت )) ؛وإذا استيقظ قال:(( الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا و إليه النّشور )).</p><p>الحمد لله الذي أحيانا : إنها أولُ كلمةٍ يهتفُ بها قلبُ المؤمن من يومه .</p><p>فحينما يلفُّ المؤمنَ سوادُ اللّيل فيخلدُ إلى الفراش ليستريح من تعب التّردّد في حاجات يومه الطّويل ، يظلُّ قلبُهُ منزلاً للأنوار الهابطة إليه من المحلِّ الرّفيع ، و يظلُّ مستعداً لأن يأخذ من ومضات النور الهابطة ما يأخذ به في مسالك النّورانيّة الرّفيعة .</p><p>و حينما يسدلُ اللّيلُ ستورَه على الوجود ، تفرح قلوبُ الذين حادّوا اللهَ و رسوله و المؤمنين بأنّ الورودَ الثّائرةَ قد خلدتْ إلى أكمامها بعد نفح الشّذا و الطّيب .</p><p>و تطمئنُّ قلوبهم إلى أنّ رجالَ الأرض قد ناموا نومتهم الهادئة ، فيقومون في هدأة اللّيل ليشعلوا نيرانَ حروبهم و أحقادهم في سكون العالم ....... هؤلاء أعداؤنا يا سادة !!!!!</p><p>و لكن إذا ما انقضى من اللّيلِ ثلثُه أو أكثرُ من ذلك بقليل قام المؤمن الحقُّ يمزّقُ أستارَ اللّيلِ بوثبةٍ من روحهِ عليّةٍ ، و يضيء أكنافَ اللّيل بأورادِ اليقين ، مكتنفاً قلبَهُ الثائرَ بين جنبيه ، يمخرُ عبابَ الصّمت بقوله : (( الحمد لله الذي أحيانا )) .</p><p>إنها الكلمةُ الأولى من يومٍ جديدٍ ..... و جميل .</p><p>إنها جذوةُ الإيمان الأولى التي تنبعث في سجاف اللّيل ليحتمل منها المؤمن قبساً مشرقاً يصوغ منه منطلقَه المؤمنَ القويّ .</p><p>إنها الكلمة الأولى التي تقول للصّمت : ( أحلى من الصّمتِ .... قولُ الذين يدعون إلى الله و يعملون الصّالحات ) .</p><p>إنها الحركةُ الأولى التي تقول للسّكون : ( أحلى من السّكونِ ... الانطلاقةُ إلى الله ) .</p><p>إنها الوثبةُ الأولى التي تقولُ للهدوء : ( أحلى من الهدوء ...... الثّورةُ على مضامين الجاهليّة ) .</p><p>إنّ لهذه الكلمة شعاعاً نورانيّاً يذكي قلبَ المؤمن بنور التّوحيد ، و يقدح فيه زنادَ التّوجّه السّديد و السّلوك الرّشيد .</p><p>إنها الهروبُ من الدَّعةِ و الضّعف ثمّ إثباتُ القدم في أرض الإيمان .</p><p>إنها الإعلانُ للدّنيا بأسرها بأنهُ إذا نامتْ عينا مؤمنٍ فإنَّ قلبه لا ينام .</p><p>إنها الفرارُ إلى الله بقلبٍ راغبٍ يحدوهُ الشّوقُ إلى حضرةِ أنسه ، واللّهفةُ للوصول إليه سبحانه ، ثمّ النّزولُ في محاريب قدسِه .</p><p>(( ففرّوا إلى اللهِ إنّي لكم منه نذيرٌ مبين ))</p><p>إنّ لهذه الكلمةِ سراً يجعلُ من البدءِ شيئاً آخر يصبغ سيرة المؤمن من يومه الجديد بلون الإيمان و عطراً يعبق في وقت المسلم من شذاه ما يعطّرهُ و يطيّبه .</p><p>مازال إبليسُ و جنودُه في كلّ عصرٍ يزيّنون لنا الشّهوات و يبرزون الملذّاتِ أمامَ أعيننا في أجمل حللها .</p><p>فإذا ما قال المؤذّنُ ( الصّلاةُ خيرٌ من النّوم ) ، نفث إبليسُ في رَوع المؤمن أنّ النّومَ خيرٌ من ركعاتٍ قد تطول ، وإذا ما قال المؤذّنُ : ( حيَّ على الصّلاة ) ، وسوسَ إبليسُ للنّفس المؤمنة بأنّ الرّاحةَ خيرٌ من القيام في محاريب الإيمان و الذّكر الحكيم .</p><p>و ما زال حلفاءُ الشّيطانِ في كلّ عصرٍ يعلّمونَ الشّبابَ المسلم بأنّ يوم المسلم إنما يبدأ من بعد طلوع الشّمس ، و بهذا انخدع الكثيرُ من المسلمين ، فإذا قاموا من صبحهم إلى أعمالهم قاموا كسالى . و ما علموا أنّ يومَ المسلم إنّما يبدأ من صيحةِ المآذن : ( الله أكبر ) .</p><p>ألا و إنّ المؤمنَ الذي لا يعيش لحظاتِ الفجر الجديد هو عدوٌّ للوقت ، و لن يعطيَه الوقتُ ما يريد ، فلا بركةَ بعد ذلك في عمره و لا انفساحَ في أيّامه و وقته .</p><p>و إنّ المؤمن الذي لا يستيقظ على صوت دقّات الصّبح على باب كلّ يوم ، فلن يستشعر في قلبه بعد ذلك حلاوةَ المشي في مناكب الأرضِ و الأكل من رزقها .</p><p>وإنّ المؤمن الذي لا يعيش تلك اللّحظات الجميلة الّتي تشرقُ فيها شمسُ الطبيعة فتملأ بشعاعات النور مسالكَ الحياة ، لن تشرقَ شمسُ الحقيقة في قلبه من يومه ، فقلبُه بعد ذلك قعرُ بئرٍ مظلمة .</p><p>فإذا ما هجر المؤمنُ فراشَه و أوى إلى محرابِ التّوحيد ثم تلا فيه من آيات الكتاب البيّنات أحسَّ بالنّشوة تسري في أوصاله و تعمرُ كيانَه .</p><p>ألا إنّه ندى الإيمان المتساقط من المحلِّ الرّفيع الأعلى على القلب الفقير ، و النّورُ النّازلُ من قبّةِ الكأسِ الأوفى إلى القلب الطّهور ، و لن يطهرَ قلبٌ و يصفو إلا بذينكَ الوافدين .</p><p>فإذا ما قام المؤمنُ فدخلَ مسجدَ التّوحيد و المناجاة وصفَّ قدميهِ في محراب العبوديّة ، تحسّستْ منه الجوارحُ و الأعضاءُ بردَ اليقين ، ثم استباحتْ خلاياه _بعد ذلك _ وارداتُ الهدى ، حينها تهتفُ كلُّ حجيرةٍ فيه : ( لا إله إلا الله ) و كلُّ خليّةٍ فيه ( محمدٌ رسولُ الله ) ، ثم تستقرُّ خلجاتُ نفسه على صدى ( ألا بذكرِ الله تطمئنُّ القلوب ).</p><p>الحمد لله الذي أحيانا : لنسعى في ركابِ الحياةِ حاملينَ لواءَ التّوحيد .</p><p>الحمد لله الذي أحيانا : لنعطّرَ مسالكَ الوجودِ بعَرفٍ من شذا الهدى و الإيمان .</p><p>الحمد لله الذي أحيانا : ليكونَ كلُّ واحدٍ منّا حراءً جديداً تنطلقُ منه صيحاتُ الهدى فتعمر الأرضَ بالهتافِ الخالد : لا إله إلا الله محمدٌ رسولُ الله</p><p>الحمد لله الذي أحيانا : حتى إذا جاءنا الموتُ بعد ذلك كان حبيباً جاء على شوق .</p><p>الحمد لله الذي أحيانا : ليكون كلُّ واحدٍ منّا هجرةً إلى الله و رسوله ، و غارَ ثورٍ جديداً يسوقُ الخيرَ إلى العالمينَ سوقاً ، و يقودُ الحيارى في ركاب النّور، و يهدي التّائهينَ إلى منازلِ الرّحمن ، حاملاً في قلبه آيَ الكتابِ و في يديه ورودَ الإسلام .</p><p>حينها ستهتفُ له كلُّ ذرّةٍ في الأرض و حبّةٍ في السّماء : ( طلعَ البدرُ علينا ) .</p></div>]]></description>
      <pubDate>Tue, 18 Oct 2011 04:55:10 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
    <item>
      <guid isPermaLink="false">www.facebook.com/notification//notes/rizky-garut/intropeksi-diri-sebagai-anak-dan-sebagai-orang-tua/2070453805773</guid>
      <title><![CDATA[INTROPEKSI DIRI SEBAGAI ANAK DAN SEBAGAI ORANG TUA]]></title>
      <link>/notes/rizky-garut/intropeksi-diri-sebagai-anak-dan-sebagai-orang-tua/2070453805773</link>
      <description><![CDATA[<div><p>Bahasa Istilah Akal/Aqli: &quot;Garam tdk akan mencair terus menetes ke atas, melainkan kebawah&quot;, perumpamaan logika prilaku orang tua (Ayah/Ibu) menurun ke lain arah, melainkan kepada anaknya, mungkin sebahagai orang tua jadi pemikiran dasar agar peningkatan kebaikan dlm mendidik anak, khusus diawali dari orang tua itu sendiri dgn mengarahkan hal yg dipandak baik menurut aturan hukum Naqli, Aqli dan Adi. Hak kepengurusan tentu buat orang tua!.</p><p>Jika sudah diurus dan menunjukan kearah kebaikan, tiba-tiba prilaku anak keluar dari aturan, maka terlepas dari tanggung jawab sebagai orang tua dalam kewajiban nafakah lahir/batin.</p><p>Tidak ada satupun orang tua yg anaknya ingin durhaka, celaka dan bodoh serta secara umum tdk sholih/at, Yu kita tingkatkan hak kita, baik ke orang tua, anak/keturunan serta kesemua makhluk.</p><p>Sejauh ini bagaimana akhlak kita terhadap orang tua kita, baik masih ada atau sudah tiada?</p><p>Dan kita terhadap anak-anak kita?.....</p><br /></div>]]></description>
      <pubDate>Sat, 24 Sep 2011 14:24:31 -0300</pubDate>
      <author>Rizky Garut</author>
      <dc:creator>Rizky Garut</dc:creator>
    </item>
  </channel>
  <access:restriction relationship="deny" xmlns:access="http://www.bloglines.com/about/specs/fac-1.0" />
</rss>